Eko Kurnianto: Mengukur Masa Depan Anak dengan Angka IQ Tunggal adalah Kekeliruan Besar

 

Ketua Fraksi PKS DPRD Kota
Bandung, Eko Kurnianto, mengkritik kebijakan penerimaan peserta didik di
Sekolah Maung yang menjadikan skor Intelligence Quotient (IQ) minimal 130
sebagai salah satu syarat utama seleksi.

Menurut Eko, kebijakan tersebut
berisiko menyederhanakan kompleksitas potensi manusia hanya menjadi satu angka
psikometri.

“Mengukur masa depan anak
hanya dengan angka IQ tunggal adalah kekeliruan besar. Manusia terlalu kompleks
untuk direduksi menjadi satu skor,” kata Eko dalam keterangan tertulis
yang diterima, Kamis (4/6/2026).

Eko Kurnianto

Eko menilai, penggunaan skor IQ
130 sebagai gerbang masuk sekolah unggulan mencerminkan cara pandang pendidikan
yang sempit dan berpotensi melahirkan eksklusivitas baru dalam sistem
pendidikan.

Ia menjelaskan, dalam kajian
psikologi modern, IQ 130 termasuk kategori giftedness atau keberbakatan
intelektual istimewa yang hanya dimiliki sekitar dua persen populasi.

“Anak gifted bukan sekadar
anak pintar. Mereka memiliki kebutuhan pendidikan dan pendampingan khusus,
termasuk dukungan sosial-emosional yang tidak sederhana,” ujarnya.

Karena itu, Eko mempertanyakan
kesiapan Sekolah Maung dalam mengelola peserta didik dengan karakteristik
tersebut.

Menurut dia, hingga kini belum
terlihat adanya desain kurikulum diferensiasi, layanan psikologi pendidikan
yang memadai, maupun tenaga pendidik yang memiliki kompetensi khusus dalam
gifted education.

“Yang terlihat justru proses
penyaringan berdasarkan angka. Negara sibuk menyeleksi, tetapi belum
menunjukkan kesiapan mendidik sesuai kebutuhan mereka,” katanya.

Eko juga mengingatkan bahwa
kebijakan tersebut berpotensi menghidupkan kembali pola pendidikan yang pernah
menuai kritik pada era Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI).

Ia menilai pendidikan seharusnya
menjadi sarana memperluas kesempatan belajar bagi seluruh anak, bukan alat
untuk mengklasifikasikan peserta didik ke dalam kelompok-kelompok tertentu.

“Kita pernah belajar dari
pengalaman RSBI. Pendidikan tidak boleh menciptakan kasta baru yang memisahkan
anak-anak berdasarkan standar tertentu,” ujarnya.

Selain itu, Eko menyoroti
kemungkinan munculnya dampak sosial berupa meningkatnya komersialisasi tes IQ.

Menurut dia, ketika skor IQ
menjadi syarat utama mobilitas pendidikan, akan muncul dorongan bagi sebagian
orangtua untuk mengejar angka tertentu melalui berbagai cara, mulai dari
pelatihan intensif hingga potensi manipulasi hasil tes.

Padahal, kata Eko, keberhasilan
seseorang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan kognitif.

Berbagai penelitian pendidikan
menunjukkan bahwa faktor karakter, daya juang, motivasi belajar, dukungan
keluarga, kemampuan bekerja sama, dan lingkungan pendidikan memiliki pengaruh
besar terhadap kesuksesan seseorang di masa depan.

“Anak dengan IQ sedang
tetapi memiliki disiplin, karakter kuat, empati sosial, dan motivasi belajar
tinggi bisa berkembang jauh lebih baik dibanding anak yang memiliki IQ sangat
tinggi tetapi kehilangan arah hidup,” katanya.

Eko menegaskan bahwa tantangan
pendidikan di Jawa Barat saat ini bukan semata-mata mencari siswa dengan skor
tertinggi, melainkan memperbaiki kualitas pendidikan secara menyeluruh.

Ia menyebut sejumlah persoalan
yang masih perlu mendapat perhatian, mulai dari ketimpangan mutu sekolah,
pemerataan guru berkualitas, akses layanan psikologi pendidikan, perundungan,
hingga risiko putus sekolah akibat faktor ekonomi.

“Bangsa besar tidak dibangun
hanya oleh anak-anak dengan IQ tinggi. Bangsa besar dibangun oleh manusia yang
tangguh, kreatif, berintegritas, mampu bekerja sama, dan memiliki keberanian
moral. Semua itu tidak pernah bisa diukur hanya dengan angka 130,”
tuturnya.


Posted

in

by

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *