Budaya Bukan Sekadar Warisan, Susi Sulastri: Ini Bekal Masa Depan Generasi Muda

 

Budaya tidak boleh dipandang
hanya sebagai peninggalan masa lalu yang disimpan dalam buku sejarah atau
dipentaskan pada acara seremonial. Di tengah derasnya arus globalisasi dan
perkembangan teknologi digital, budaya justru harus menjadi bekal utama bagi
generasi muda dalam menghadapi masa depan.

Hal tersebut disampaikan oleh
Susi Sulastri saat berbicara mengenai pentingnya penguatan identitas budaya di
kalangan generasi muda Kota Bandung.

Barong Badranaya

“Budaya bukan hanya sekadar
warisan untuk dikenang, tetapi merupakan bekal masa depan bagi kalian semua,”
ujar Susi. (30/5/2026).

Menurut dia, budaya merupakan
pondasi yang menjaga identitas suatu bangsa agar tetap kokoh di tengah berbagai
pengaruh global yang terus berkembang. Tanpa pijakan budaya yang kuat, generasi
muda berisiko kehilangan arah dan jati diri.

“Kalau generasi muda kehilangan
akar budayanya, maka yang terancam bukan hanya identitas pribadi, tetapi juga
martabat bangsa di masa depan,” katanya.

Budaya Hadir dalam Kehidupan
Sehari-hari

Susi menilai masih banyak
masyarakat yang memahami budaya secara sempit, sebatas seni pertunjukan atau
tradisi tertentu. Padahal, budaya juga tercermin dalam perilaku sehari-hari.

Ia menjelaskan bahwa budaya hidup
dalam tutur kata, sikap, serta tata krama yang menjadi ciri khas masyarakat
Indonesia, khususnya masyarakat Sunda.

“Budaya itu terlihat dari cara
kita berbicara, menghormati orang yang lebih tua, hingga bagaimana kita
berinteraksi dengan lingkungan sekitar,” ujarnya.

Menurut Susi, nilai-nilai
kesopanan yang selama ini menjadi karakter masyarakat Timur perlu terus dijaga
dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Tantangan Generasi Z di Tengah
Arus Globalisasi

Di sisi lain, Susi mengakui bahwa
generasi muda saat ini menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan generasi
sebelumnya. Paparan budaya global melalui media sosial membuat berbagai tren
internasional semakin mudah diterima.

Fenomena seperti popularitas
K-Pop hingga penggunaan bahasa campuran Indonesia dan Inggris dalam percakapan
sehari-hari menjadi bagian dari realitas yang tidak dapat dihindari.

Namun, ia mengingatkan agar
keterbukaan terhadap budaya global tidak membuat generasi muda memandang budaya
lokal sebagai sesuatu yang kuno atau tidak relevan.

“Bukan berarti budaya luar harus
ditolak. Yang penting adalah bagaimana anak-anak muda tetap memiliki identitas
yang kuat sebagai orang Sunda dan sebagai bangsa Indonesia,” katanya.

Budaya Perlu Dikemas Lebih
Kreatif

Susi menilai salah satu kunci
agar budaya tetap diminati generasi muda adalah melalui pendekatan yang kreatif
dan sesuai perkembangan zaman.

Ia mencontohkan sejumlah konten
Jaipongan modern yang berhasil menarik perhatian publik di media sosial.
Menurutnya, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa budaya lokal memiliki ruang
yang besar untuk berkembang apabila dikemas secara menarik.

Selain itu, kesenian tradisional
seperti wayang golek juga perlu menghadirkan cerita yang dekat dengan kehidupan
generasi sekarang tanpa meninggalkan nilai-nilai budayanya.

“Budaya harus hadir secara
kreatif dan inklusif. Anak muda perlu melihat bahwa budaya bukan sesuatu yang
jauh dari kehidupan mereka,” ujar Susi.

Membangun Lingkungan Sosial yang
Positif

Lebih lanjut, Susi mengajak
generasi muda untuk membangun lingkungan pergaulan yang positif dan produktif.

Menurut dia, ruang-ruang
interaksi sosial, termasuk tongkrongan anak muda, dapat menjadi sarana penting
untuk menumbuhkan kreativitas sekaligus memperkuat nilai budaya.

Ia juga mendorong pemanfaatan
media sosial seperti TikTok dan platform digital lainnya sebagai sarana
memperkenalkan budaya kepada masyarakat secara lebih luas.

“Media sosial jangan hanya
menjadi tempat mengikuti tren, tetapi juga bisa menjadi alat untuk menyebarkan
nilai-nilai budaya secara kreatif,” katanya.

Selain itu, Susi mengusulkan agar
pendidikan budaya dan etika komunikasi mendapat perhatian lebih dalam sistem
pendidikan sehingga dapat menjadi kebiasaan yang tumbuh sejak usia dini.

Bandung Berbudaya

Di akhir penyampaiannya, Susi
mengajak masyarakat untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas budaya
yang dimiliki.

Menurut dia, budaya tidak cukup
hanya dipelajari di sekolah, tetapi harus dihidupkan dalam kehidupan
sehari-hari melalui tindakan nyata.

“Harus ada kebanggaan bahwa saya
orang Sunda, saya orang Indonesia. Ketika rasa memiliki itu tumbuh, budaya akan
terus hidup dan diwariskan,” ujarnya.

Susi berharap Kota Bandung dapat
terus menjadi contoh kota yang mampu menjaga nilai-nilai budaya lokal di tengah
modernisasi.

“Bandung harus menjadi barometer
budaya yang modern, kreatif, tetapi tetap santun dan berkarakter,” tutupnya.


Posted

in

by

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *